SEMARANG, beritajateng.tv – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan selama lima hari. Banyak serba-serbi yang terjadi selama keberjalanan program baru ini.
Beberapa siswa di antaranya mengeluhkan menu makanan pada MBG. Umumnya, mereka mengeluhkan menu yang tak bervariasi dan sayur yang asam.
Diva Mahendra misalnya. Siswa SMPN 12 Semarang mengaku tidak bisa menghabiskan menu sayur dalam makan siangnya. Namun, menu lain seperti daging ayam dan tempe terasa enak.
“Sebenarnya enak, ayam bakarnya pas, tempenya juga enak. Cuma sayurnya agak sedikit asam. Biasanya suka cuma kalau ini rasanya asam,” ungkap Diva kepada beritajateng.tv, Jumat, 10 Januari 2025.
BACA JUGA: Program Makan Bergizi Gratis Mulai Berjalan, 200 Pengusaha Katering PPJI Semarang Siap Jadi Mitra
Menurut Diva, paket makan gratis terasa paling enak di hari pertama, yakni Senin lalu. Saat itu, ia menerima paket makan berisi nasi, ayam asam manis, sayur kacang panjang, tahu, dan buah semangka.
Ia juga mengeluhkan pengiriman yang sempat terlambat. Saat itu, paket makan baru datang pukul 13.30 WIB, jauh terlambat dari jam makan siang pukul 12.00 WIB.
“Hari keempat sayurnya agak pahit, sayur sawi dan wortel. Lauknya lumayan, telur bacem sama tempe goreng. Waktu itu telat juga jadi mohon kerjasamanya udah nungguin udah lapar,” ucapnya.
Hemat tabungan siswa
Lebih lanjut, siswa juga mengeluhkan menu yang hampir tiap hari sama. Menu makan yang berulang dan itu-itu aja membuat siswa bosan.
Misalnya Vicky Derrik Wibowo. Siswa SMPN 12 Semarang itu mengaku bosan karena menu MBG kurang bervariasi. Ia sering menerima paket berisi ayam, tahu, dan tempe.
“Saran menu agak bervariasi, karena karang menunya sama. Kalau segi rasanya enak. Yang sama menunya sering ayam, tahu, tempe, kalau sayurnya beda-beda,“ ucapnya.
BACA JUGA: Makan Bergizi Gratis Rp10 Ribu Per Porsi, Begini Kata Pengusaha Catering
Kendati demikian, Vicky tetap menyambut baik program MBG ini. Menurutnya, program MBG ini bisa menghemat pengeluarannya. Sejak ada program MBG, Vicky bisa menyumpan sebagian uang sakunya dan bisa ia belanjakan untuk keperluan lain.
“Uang saku saya tetap sama, tapi sekarang sisa. Sisanya saya simpan, biasanya jajan Rp10 ribu. Jadi sisa, bisa buat jajan lagi,” tuturnya. (*)
Editor: Farah Nazila





