]SEMARANG, beritajateng.tv – Ada beragam penampilan seni dan budaya Jepang yang menarik minat anak muda Kota Semarang. Salah satunya adalah Taiko, alat musik tradisional khas Jepang.
Secara sekilas, Taiko memiliki kemiripan dengan drum, bedug, atau gendang. Kostum yang digunakan para pemain sebenarnya juga bermacam-macam berdasarkan ciri khasnya masing-masing.
Misalnya, sebuah grup Taiko yang berisi mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Mereka menggunakan kostum berwarna dominan merah dan sedikit hitam, serta pelengkap berupa ikat kepala.
Avior Ahmad Hilmy, salah satu anggota Taiko Udinus menjelaskan, Taiko awalnya adalah alat musik Jepang yang digunakan untuk memotivasi pasukan, baik saat perang maupun upacara.
Seiring berjalannya waktu, Taiko menjadi sebuah kebudayaan yang menyebar ke luar Jepang dan digandrungi banyak anak muda.
BACA JUGA: Serunya Melukis Shodou, Seni Kaligrafi Tradisional Asal Jepang
“Taiko penyebutan alat musik juga bisa sebagai penyebutan kebudayaan, karena Taiko ini alat musik kesenian dari Jepang,” katanya mengawali pembicaraan dengan beritajateng.tv, Minggu, 11 Februari 2024.
Avior sendiri baru mengenal Taiko saat mengenyam pendidikan di jurusan Sastra Inggris Udinus. Awalnya, ia lebih dulu mengikuti grup hobi yaitu Soran Bushi atau tarian tradisional Jepang.
Saat mengikuti festival budaya Jejepangan, Avior kemudian tertarik untuk bergabung dengan grup Taiko. Terlebih, hanya Udinus yang memiliki alat musik Taiko se-Jawa Tengah.
“Satu-satunya yang punya Taiko ini cuma Udinus. Waktu itu, Pak Edy [Rektor Udinus] yang pesankan langsung. Jadi mahasiswa di luar jurusan Sastra Jepang pun boleh ikut juga karena memang kepunyaan kampus,” imbuhnya.
Taiko khas Jepang butuh ketahanan fisik yang memadai
Hampir 1,5 tahun rutin latihan dan tampil dalam berbagai event, Avior mengaku tak mudah dalam memainkan Taiko. Menurutnya, meski tak memiliki melodi khusus seperti alat musik lainnya, memainkan Taiko tetap membutuhkan persiapan lebih.
“Yang susah dari Taiko itu dari fisik butuh tenaga yang banyak, apalagi kalau nggak biasa mukul Taiko tangannya sakit-sakit, tapi kalau udah lama kebiasaan nanti enak sendiri juga,” jelasnya.
Senada, Theodora, anggota lainnya, menyebut memainkan Taiko tak mudah apalagi dirinya adalah perempuan. Salah satunya karena menguras energi dan membutuhkan fisik yang mumpuni.
Sebelum latihan, misalnya, Theodora harus melakukan pemanasan mulai dari lari, posisi split hingga posisi kuda-kuda.
BACA JUGA: Asyiknya Mengisi Libur Sekolah dengan ‘Cosplay’ Ala Karakter Gim Jejepangan di Semarang
“Selain karena emang suka Jejepangan, mungkin sebagai cewek tujuannya bisa sekalian untuk bentuk badan,” gurau mahasiswi jurusan Sastra Jepang Udinus itu.
Theodora mengaku menyukai Taiko sejak kuliah semester 1 atau tahun 2020 silam. Namun, karena Pandemi Covid-19 dan pembelajaran online, ia baru sempat latihan sejak tahun 2022 akhir.
“Aku lebih milih Taiko mungkin karena Taiko ini keseniannya beda dari yang lain. Taiko punya semangatnya sendiri dalam tampil,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




