SEMARANG, beritajateng.tv – Pemeriksaan enam saksi dalam sidang dugaan korupsi pengisian perangkat desa dengan terdakwa Bupati Pati nonaktif Sudewo di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu, 5 Agustus 2026 menghadirkan fakta persidangan baru. Selain munculnya istilah “duwuran” yang dipersepsikan sebagai bupati, sejumlah calon perangkat desa juga mengaku berharap uang Rp165 juta yang telah mereka serahkan bisa dikembalikan.
Enam saksi yang Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK hadirkan, yakni Kepala Desa Trikoyo Dasar Wibowo, Kepala Desa Boto Jebol Lukito, serta empat warga yang merupakan calon perangkat desa. Yakni Ahmad Wiroto, Suparmin, Parmin, dan Suyono.
Dalam pemeriksaan, JPU Greafik Loserte, lebih dulu mendalami proses penyerahan uang oleh para calon perangkat desa.
Ahmad Wiroto mengaku menyerahkan uang melalui Kepala Desa Trikoyo saat hendak mengikuti seleksi calon kepala dusun Karangkawis. Selain uang, ia juga diminta menyerahkan fotokopi KTP dan Kartu Keluarga (KK) yang dimasukkan bersama uang tersebut.
Saat jaksa menanyakan apakah menerima tanda terima, Wiroto menjawab tidak pernah memperoleh nota maupun bukti pembayaran.
Keterangan serupa Suparmin sampaikan, yang mengaku menyerahkan uang untuk mengikuti seleksi calon Kasi Perencanaan Desa Trikoyo, serta Parmin yang mengaku menyerahkan uang untuk posisi calon Kaur Keuangan Desa Trikoyo. Keduanya juga menyatakan menyerahkan fotokopi KTP dan KK bersamaan dengan uang.
Sementara Suyono mengaku lebih dulu menyerahkan uang Rp130 juta kepada Sukarjan sebagai tahap awal untuk mengikuti seleksi calon Kaur Perencanaan Desa Sukorukun.
“Katanya kekurangannya [bisa bayar] besok-besok,” ujar Suyono di persidangan.
BACA JUGA: Tantang Saksi Cari Video TikTok Soal Perangkat Desa, Sudewo: Saya Bayar Rp5 Juta
Dalam pemeriksaan lanjutan, JPU Greafik juga mempertanyakan kepada saksi calon perangkat desa, apakah mereka berharap uang yang telah diserahkan dapat dikembalikan.
“Ketika bapak memiliki kesempatan untuk dihadapkan dengan barang-barang bukti uang yang kami yakini berasal dari bapak-bapak sekalian. Apa yang ingin bapak sampaikan?” tanya jaksa.





