Olahraga

Wacana Dana Pensiun untuk Atlet Indonesia Terus Bergulir, Kapan Realisasinya?

×

Wacana Dana Pensiun untuk Atlet Indonesia Terus Bergulir, Kapan Realisasinya?

Sebarkan artikel ini
dana pensiun atlet
Ilustrasi. Dana pensiun atlet. (Foto: Pexels).

SEMARANG, beritajateng.tv – Erick Thohir mengungkapkan bahwa ia telah berjuang selama dua minggu untuk merancang skema bantuan dana pensiun bagi atlet dan pelatih yang telah berprestasi. Menteri Pemuda dan Olahraga yang baru ini menginformasikan bahwa ia telah mengajukan anggaran untuk mantan atlet dan pelatih kepada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

Erick menyatakan bahwa Purbaya terbuka terhadap permohonan alokasi anggaran untuk para pahlawan olahraga Indonesia yang telah pensiun. Namun demikian, Erick masih belum dapat memastikan jadwal pencairan anggaran dan jumlah dana yang akan disalurkan oleh Kementerian Keuangan. Menurutnya, masih perlu studi kelayakan lebih lanjut.

Ia juga menambahkan bahwa penyusunan skema dana pensiun atlet berdasarkan pada kebijakan dari beberapa negara lain seperti di Cina. Saatnya bagi negara untuk memberikan perhatian kepada mereka yang telah mengibarkan bendera Merah Putih di ajang juara.

BACA JUGA: Gerald Vanenburg Tak Melatih Timnas U23 untuk SEA Games 2025, Giliran Indra Sjafri yang Mengasuh Skuad Garuda

Parameter yang ia maksud adalah seberapa besar pencapaian atlet, baik di tingkat regional seperti SEA Games dan Asian Games, maupun di tingkat internasional seperti Olimpiade. Kajian mengenai dana ini masih berlangsung di Kemenpora, sehingga ia meminta agar parlemen selaras dengan upaya tersebut.

Indonesia patut belajar dari negeri Tirai Bambu. Regulasi dan sistem pemberiaan dana pensiun untuk atlet telah bergulir sejak lama.

Bagaimana Cina Memberikan Dana Pensiun untuk Atlet?

Rata-rata usia pensiun atlet di Cina adalah sekitar 27 tahun untuk perempuan dan 29 tahun untuk laki-laki. Nasib mereka yang pensiun bisa dianggap baik jika mereka berhasil meraih podium di ajang bergengsi seperti Olimpiade.

Sejauh ini, ada 319 juara Olimpiade yang lahir dan tumbuh di Tiongkok daratan antara tahun 1984 hingga akhir 2024.

Di Cina, banyak atlet juara Olimpiade yang setelah pensiun beralih ke posisi di pemerintahan yang berkaitan dengan olahraga. Tak jarang, para mantan juara Olimpiade juga menduduki jabatan-jabatan penting di Kementerian yang mengurusi sektor olahraga.

BACA JUGA: Indonesia Hanya Mengirim 120 Atlet di SEA Games 2025, Apa Kendalanya?

Pensiunan atlet yang menduduki posisi pemerintahan bukanlah sembarang orang. Rata-rata mereka telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, sehingga setelah pensiun, ijazah pendidikan tersebut menjadi modal untuk berkarier sebagai aparatur sipil negara.

Sementara itu, para atlet terus berlatih sesuai dengan cabang olahraganya, mengikuti pola pendidikan yang ada. Mereka menjalani pelatihan di pusat-pusat pelatihan yang dimiliki oleh negara, bukan di lembaga swasta.

Pemberdayaan Atlet

Dari segi pemberdayaan atlet dalam pendidikan, pemerintah Cina telah memulai reformasi sejak era Deng Xiaoping di akhir 1970-an. Di era ini, olahraga terpisah dari pendidikan umum di Cina, dan olahragawan sebagai sebuah profesi dengan penekanan pada spesialisasi masing-masing cabang.

Mulai tahun 2000, Cina memperluas kesempatan bagi mahasiswa baru dari kalangan pensiunan atlet. Bahkan, para mantan atlet yang masuk perguruan tinggi tidak wajib mengikuti ujian masuk. Alhasil, bekal pendidikan yang diperoleh di bangku kuliah membantu pensiunan atlet untuk merambah ke bidang lain di luar dunia olahraga secara teknis dan praktis.

Pensiunan atlet senam menduduki jumlah terbanyak di level pemerintahan maupun di luar sistem. Sementara itu, mantan atlet dari cabang olahraga lain seperti loncat indah, bulu tangkis, dan bola voli memilih jalur karier yang berbeda. Misalnya, Li Ning, seorang atlet senam yang berbakat pada periode 1980-an, berhasil meraih tiga medali emas, dua perak, dan satu perunggu di Olimpiade Los Angeles, Amerika Serikat. Setelah pensiun, Li Ning memilih untuk berkarier sebagai pebisnis.

Setelah menyelesaikan kariernya pada tahun 1988, ia awalnya masuk ke Guangdong Jianlibao Group. Sampai akhirnya, ia mengembangkan merek peralatan olahraga yang menggunakan namanya sendiri. ‘Li Ning’ kini menjadi salah satu produk asal Tiongkok yang sudah mendunia, termasuk sepatu, raket, dan pakaian olahraga. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp