Hukum & Kriminal

Chiko Terdakwa Kasus Konten Asusila AI Divonis 1 Tahun Penjara, Tambah Denda Rp2 Miliar

×

Chiko Terdakwa Kasus Konten Asusila AI Divonis 1 Tahun Penjara, Tambah Denda Rp2 Miliar

Sebarkan artikel ini
Chiko AI
Terdakwa pelaku kasus penyalahgunaan konten asusila berbasis Artificial Intelligence (AI), Chiko Radityatama Agung Putra, saat tiba di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis, 5 Maret 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Terdakwa pelaku kasus penyalahgunaan konten asusila berbasis Artificial Intelligence (AI), Chiko Radityatama Agung Putra, beroleh vonis 1 tahun penjara.

Vonis tersebut Majelis Hakim bacakan dalam agenda pembacaan putusan di ruang sidang Oemar Seno Adji, Pengadilan Negeri Semarang, pada Kamis, 5 Maret 2026.

“Mengadili, menyatakan bahwa Chiko Radityatama Agung Putra terbukti bersalah dan meyakinkan bersalah dalam tindakan membuat, memproduksi dan menyebarluaskan pornografi sebagaimana dalam dakwaan,” bunyi amar putusan yang Hakim Ketua, Agung Iriawan, bacakan pada sidang Kamis, 5 Maret 2026.

“Dua, menyatakan pidana terhadap Chiko Radityatama Agung Putra dengan pidana 1 tahun,” lanjut Agung.

Terdakwa juga dikenai denda kategori 6 sebesar Rp2 miliar atau dengan ketentuan jika tidak dibayarkan akan diganti penjara selama 15 hari.

Dalam pertimbangan memberatkan, Majelis Hakim mengatakan, bahwa perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Jejak digital dari konten deepfake bermuatan pornografi yang Chiko buat dan produksi dapat terus ada di dunia.

BACA JUGA: Hakim Anggota Sakit, Sidang Putusan Kasus Konten Porno AI Chiko Tunda Sepekan

“Perbuatan terdakwa berdampak trauma psikis kepada korban dan keluarganya,” ujarnya.

Sedangkan dalam pertimbangan meringankan, Majelis Hakim mengatakan bahwa terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya. Terdakwa masih muda dan berkeinginan melanjutkan studi. Terdakwa juga belum pernah dihukum serta terdapat perdamaian dengan para saksi korban.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Panji Sudrajat, menyatakan pikir-pikir terhadap putusan tersebut. Dalam perkara ini, jaksa membuktikan dakwaan pertama yaitu Pasal 407 KUHP terkait tindak pidana yang dikategorikan sebagai pelanggaran kesusilaan di ruang digital.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Syaekhul Mujab dan Andreas Hijrah Aerudin, juga menyatakan pikir-pikir terhadap putusan yang dibacakan Majelis Hakim. “Pikir-pikir dulu Yang Mulia,” ujarnya dalam sidang.

Ketika ditanya terkait adanya banding, pihak kuasa hukum terdakwa menyatakan masih pikir-pikir.

“Jadi karena tuntutannya 7 bulan, ini putusannya 1 tahun. Jadi kami [menyatakan] pikir-pikir,” kata Andreas usai sidang.