SEMARANG, beritajateng.tv – Kampung Jawi yang terletak di Kampung Kalialang, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang kini kian apik dengan tetap berkonsep tradisional.
Meja kursi tetap menggunakan kayu, pembayarannya pun masih menggunakan kepeng terbuat dari kayu.
Kuliner yang mereka jual merupakan beragam makanan tradisional. Penerangan masih alami menggunakan sentir dan obor.
Bedanya, lapak kini kian cantik dengan tetap mengunjung konsep tradisional. Kemudian, meja kursi pengunjung semakin banyak. Beberapa meja kursi menghadap langsung ke sungai.
Sehingga, pengunjung bisa menikmati pemandangan aliran Sungai Gribik.
Koordinator Kampung Jawi, Siswanto mengaku bersyukur Kampung Jawi bisa langgeng hingga saat ini dalam keadaan apapun.
Diakuinya, perubahan pusat kuliner ini cukup banyak. Namun demikian, konsepnua tetap sama mengusung khas tradisional.
Pengunjung tetap membayar menggunakan kepeng dengan terlebih dahulu melakukan penukaran. Satu kepeng setara dengan Rp 3.500.
Jumlah lapak hingga saat ini masih tetap, yakni 18 lapak yang menyuguhkan makanan tradisional, antara lain gendar pecel, soto, nasi opor, gudeg, nasi ayam, gorengan, jagung bakar, jadah bakar, dan aneka cemilan lainnya.
Minumannya pun beragam mulai dari es teh, teh krampul, es degan, es gempol, pisang ijo, es jeruk, dan minuman segar lainnya.
“Makanannya sama, masih tradisional dengan penambahan sedikit,” ucap Siswanto, Selasa 17 Januari 2024.
Wajah Baru Kampung Jawi Gunungpati Semarang
Dengan wajah baru ini, Siswanto menyebut, antusiasme pengunjung masih tetap bertahan. Dia berusaha membuat pengunjung nyaman sehingga ingin kembali datang ke Kampung Jawi.
Jam operasional Kampung Jawi mulai 16.00 – 22.00. Bahkan, diakuinya, terkadang pengunjung datang lebih awal dari pada pedagangnya.
Rata-rata pengunjung sebanyak 50 per hari untuk hari biasa. Sedangkan, akhir pekan bisa tembus 200-300 pengunjung.
“Pengunjung tidak menentu. Apabila weekend, ada acara, pengunjung alhamdulillah banyak,” ucapnya.
Seorang pengunjung, Diyah mengaku, senang berwisata kuliner ke Kampung Jawi. Ini bukan kali pertamanya ia datang, namun sudah beberapa kali.
“Sudah beberapa kali datang kesini. Biasanya sama keluarga. Kali ini sama ibu-ibu,” ucapnya.
Hal yang membuat ia kembali berwisata kuliner ke Kampung Jawi yaitu suasananya yang asri dengan suguhan beragam kuliner tradisional.
Dengan wajah baru Kampung Jawi, dia berharap bisa semakin maju dan memberikan pelayanan semakin baik kepada pengunjung.
“Kulinernya sesuai karena kita ‘lidah ndesa’, makanannya ndesa, sehat,” katanya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





