JAKARTA, beritajateng.tv – Setelah Covid-19, China baru-baru ini kembali dilanda wabah baru, yakni Pneumonia yang ‘misterius.’
Pneumonia ‘misterius’ ini pun menjadi trending topic di mesin pencarian Google belakangan ini. Terlebih, kabarnya, kasus tersebut juga melonjak.
Akibat dari pnemonia tersebut, tak sedikit anak-anak yang harus di rawat di rumah sakit China yang juga tengah berjuang keras dalam menangani lonjakan kasus penyakit tersebut terhadap pasien.
Adapun kondisi pneumonia ini belum terindentifikasi penyebabnya.
WHO menginformasikan adanya tanda-tanda pneumonia yang belum terdiagnosis melalui ProMed sejak 22 November 2023.
Kemkes telah mengeluarkan peringatan dan meminta semua pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai peningkatan kasus pneumonia misterius yang belum terdiagnosis di wilayah China bagian utara.
BACA JUGA: Gandeng PMI, Perhutani KPH Blora Gelar Bakti Sosial Donor Darah
Meski adanya lonjakan kasus penyakit tersebut, China tetap aman didatangi. Hal ini pun terungkap dari Juru Bicara Kementrian Luar Negeri Wang Wenbin.
“izinkan saya meyakinkan Anda bahwa bepergian dan berbisnis di China aman dan tidak perlu khawatir,” kata Wang seperti beritajateng.tv lansir dari Antara, Rabu 29 November 2023.
Bakteri sebagai penyebab penyakit Pneumonia
Berdasarkan Komisi Kesehatan Nasional China, kenaikan kasus ini karena adanya beberapa patogen saluran pernafasan seperti bakteri mycoplasma pneumonia, virus influenza dan infeksi respitory synctial virus (RSV) serta adenovirus sehingga belum ada patogen baru yang ditemukan dalam kasus itu.
Sebagai langkah antisipasi agar kasus ini tidak merebak di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: PM.03.01/C/4632/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia, pada tanggal 27 November 2023.
Pihak Kemenkes menghimbau earga untuk tidak panik terhadap kasus ini.
“Jadi kasus pneumonia yang ini terlaporkan oleh China, WHO sudah mengeluarkan pedoman bahwa penyebabnya bakteri. Supaya tidak terlalu khawatir karena bakteri tidak seperti virus ya. Bakteri jelas ada pengobatannya,” ungkap Siti Nadia Tarmizi selaku Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes.
Peningkatan kasus ini dugaannya tersebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae yang lebih sering menyerang anak-anak dari pada orang dewasa.
Tak menutup fakta bahwa warga tetap harus waspada terkait kasus penyakit ini.
BACA JUGA: IDI Kota Semarang: Nyamuk Wolbachia Efektif Tekan Angka Demam Berdarah
“Kita itu melakukan peningkatan kewaspadaan saja. Karena di China menyebabkan kriteria sebagai kejadian luar biasa,” kata Nadia lagi. (*)





