SEMARANG, beritajateng.tv – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sragen dihentikan sementara menyusul kasus keracunan yang ratusan siswa pada Senin, 11 Agustus 2025 lalu.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memastikan seluruh siswa tak ada yang menjalani rawat inap. Saat dijumpai di Muladi Dome Universitas Diponegoro (Undip), Kota Semarang, Rabu, 13 Agustus 2025, ia menyebut siswa yang keracunan saat ini tengah menjalani rawat jalan.
Selain menghentikan sementara distribusi MBG di Sragen, tutur Luthfi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah juga membuka posko kesehatan 24 jam di lokasi terdampak.
“Yang pertama, kami berhentikan dulu MBG-nya. Yang kedua, kami sudah buka posko terkait dengan kesehatan 24 jam dan sampai hari ini tidak ada yang dapat perawatan, artinya tidak ada yang rawat inap, dia hanya dapat rawat jalan,” ujar Luhtfi.
Lebih lanjut, Luthfi memastikan pemeriksaan sampel MBG di laboratorium akan segera berjalan.
“Pemeriksaan [sampel MBG] di laboratorium kami lakukan di Jawa Tengah dan kondisi anak-anak sudah sehat semua,” sambungnya.
Kasus keracunan MBG bukan kali pertama di Jateng, ini upaya yang akan Luthfi lakukan
Mengingat ini bukan pertama kali keracunan MBG terjadi di Jawa Tengah, Luthfi menegaskan akan melapor dan berkoordinasi dengan MBG pusat untuk membahas dan mengevaluasi pelaksanaan MBG di wilayahnya.
“Kami akan lapor dan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) pusat untuk melakukan rapat bersama dalam rangka menyukseskan program (MBG), terutama ada beberapa kejadian yang terjadi,” terang dia
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, yang turut mendamping Luthfi dalam acara itu menuturkan, penyebab pasti gangguan pencernaan masih menunggu hasil uji sampel makanan di tingkat provinsi.
“Gejalanya ringan, tapi kami periksa semua kemungkinan, mulai dari peralatan, dapur, hingga proses pengolahan makanan,” tutur Yunita.
BACA JUGA: 322 SPPG untuk MBG di Jateng Sudah Jalan, Ahmad Luthfi: Akan Tambah, Jepara Terbanyak
Ia mengatakan, penghentian MBG di Sragen selama dua hari untuk evaluasi sambil menunggu keputusan lebih lanjut dari BGN.
“Kalau bahan dan menu makanan sudah memenuhi standar, tapi proses pengolahan tetap menjadi faktor penting,” imbuhnya.
Dinas Kesehatan Jawa Tengah memastikan posko kesehatan tetap siaga 24 jam untuk menerima laporan jika ada siswa yang mengalami keluhan lanjutan.
“Sejauh ini tidak ada tambahan kasus, dan kondisi anak-anak terkendali,” kata Yunita.
Dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong-1 Sragen bakal tutup, penanggungjawab ungkap krunya tertekan
Sebelumnya, dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong-1 di Sragen, Jawa Tengah, akan ditutup selama tujuh hari menyusul insiden keracunan massal yang terjadi pada Senin, 11 Agustus 2025 lalu.
Keputusan ini tersampaikan oleh Penanggungjawab Dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong-1, Arifuddin Setiawan, pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Arifuddin menjelaskan, langkah tersebut pihaknya ambil untuk mempertimbangkan kondisi psikis dari 49 karyawan yang bekerja di dapur tersebut.
“Melihat kondisi psikis tim kami yang mungkin mereka merasa bersalah juga, sehingga kami harus mengistirahatkan mereka. Mungkin Selasa minggu depan kami bisa operasional lagi,” ujarnya.
BACA JUGA: Program MBG di Blora Kurangi Pengangguran dan Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga
Menurut Arif, para karyawan mengalami syok akibat keracunan yang terjadi, dan saat ini mereka merasa khawatir.
“Mereka itu bekerja dengan hati, enggak asal-asalan. Kemudian ada kesalahan yang mereka enggak sengaja, dan mereka mau menyalahkan siapa kan enggak tahu. Yang ada kan akhirnya menyalahkan diri sendiri,” tambahnya.
Meski begitu, Arif berharap insiden ini dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan standar kualitas produksi MBG agar program tersebut dapat berjalan tanpa masalah di masa mendatang.
“Tapi mudah-mudahan nanti segera ketemu apa penyebabnya, sehingga kami juga bisa untuk segera mengevaluasi. Jadi program ini bisa berjalan tanpa kendala,” ujarnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi






