Hukum & Kriminal

Sebelum Bunuh Bayi, Brigadir Ade Sempat Kabur ke Purbalingga Dua Kali saat Tahu Kekasihnya Hamil

×

Sebelum Bunuh Bayi, Brigadir Ade Sempat Kabur ke Purbalingga Dua Kali saat Tahu Kekasihnya Hamil

Sebarkan artikel ini
brigadir ade kurniawan // sidang kasus pembunuhan bayi
Brigadir Ade Kurniawan saat menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kota Semarang, Rabu, 13 Agustus 2025. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ibu dari bayi yang diduga dibunuh oleh Brigadir Ade Kurniawan sekaligus mantan kekasih Ade, Dina, menyebut Ade sempat kabur saat usia kandungannya memasuki umur dua bulan.

Hal itu ia ungkap saat memberikan keterangan persidangan kepada Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Semarang, Rabu, 13 Agustus 2025.

Saat kandungan Dina berumur dua bulan, Ade sempat kabur ke kampungnya di Purbalingga. Bermodalkan alamat Ade yang pernah ia lihat di KTP, Dina pun menyusul ke Purbalingga dan bertemu keluarga Ade.

Tak mendapat sambutan baik, keluarga Ade justru memaki wanita tersebut di Purbalingga saat ia memberi tahu soal kehamilannya.

“Dina sampaikan kalau Dina dalam keadaan hamil. Tanggapan mereka langsung maki-maki, mereka bilang ‘kok kamu mau hamil sama laki-laki ini? Kamu harusnya jaga diri, jangan jadi perempuan murahan’. Begitu,” ungkap Dina.

Usaha Dina mencari Ade di Purbalingga sia-sia. Ia pun langsung kembali ke Kota Semarang seorang diri. Tak lama berselang, Dina pun berhasil menjumpai Ade di Kota Semarang.

BACA JUGA: Pemecatan Brigadir Ade Kurniawan Tak Hormat dan Jadi Tersangka, Keluarga Korban: Puas Sekali

Hubungan keduanya kembali membaik, bahkan Ade dan Dina sempat berkunjung ke rumah paman Dina di daerah Tembalang. Kepada Paman Dina, Ade sempat meminta maaf atas perlakuan keluarganya terhadap Dina.

Kabur kedua kali ke Purbalingga, Dina terkejut saat tahu Ade punya istri siri dan seorang anak

Tak cuma sekali, Dina mengaku Ade berusaha kabur kembali ke Purbalingga saat kandungannya memasuki usia empat bulan.

Sendiri, wanita tersebut pun langsung mendatangi rumah Ade dan menanyakan maksud pria tersebut yang kabur di saat wanita itu akan memasuki fase hamil besar.

Saat tiba di kediaman Ade di Purbalingga, Dina sangat terkejut begitu ibu Ade memberi tahu bahwa Ade memiliki istri siri dan seorang anak.

Bukan tanpa alasan Dina terkejut. Pasalnya, yang ia tahu adalah Ade berstatus sebagai seorang duda.

“Dari situ ibunya bilang kalau terdakwa punya istri dan punya anak. Dia kan statusnya sudah duda, Januari atau Februari gitu akta cerainya sudah keluar. Ternyata itu istri sirinya,” ujar Dina.

Setelah kejadian itu, Dina mendapati fakta dari ibu Ade bahwa Ade memang benar sudah cerai dengan istri pertamanya. Namun, Ade juga memiliki istri siri dan anak yang sudah lahir saat Dina mengandung.

Dina lantas meminta ibu Ade untuk menyampaikan hal itu kepada keluarganya. Ibu Ade menyanggupi permintaan Dina untuk dinikahkan anaknya. Hanya saja Dina menolak karena ibu Ade meminta Dina menjadi istri kedua.

“Di situ ibunya bilang bisa nikah, cuma hanya sebagai istri kedua. Dina gak mau, gak mau nikah sama suami orang,” akunya.

Ade merayu Dina, sebut lebih sayang dengannya ketimbang istri sirinya

Setelah pertemuan Dina dan ibu Ade yang mengejutkan dirinya itu, akhirnya Dina dan Ade kembali ke Kota Semarang.

Alih-alih pergi meninggalkan Ade setelah mendapati fakta bahwa kekasihnya itu memiliki istri siri dan anak, wanita tersebut justru terbuai oleh omongan Ade yang mengaku lebih menyayangi Dina ketimbang istri sirinya.

Rayuan Ade itu akhirnya membuat Dina mantap untuk menjaga bayi mereka. Hingga pada 7 Januari 2025 lalu, bayi mereka berinisial NA lahir di salah satu RS Kota Semarang.

Ia menyebut, sebelumnya Ade sempat mencurigai anak Dina bukanlah anak kandungnya. Tak lama selang bayinya lahir, Ade melakukan tes DNA di klinik daerah Tembalang.

“Pembacaan hasil DNA-nya, sudah 99 persen anak dia. Setelah itu dia makin nunjukin kalau dia ketakutan, panik,” ucap Dina.

Setelah NA lahir, keluarga besar kedua belah pihak pun sempat bertemu. Dina pun kukuh meminta Ade agar menikahinya. Tujuannya tak lain agar negara mengakui bayi mereka. Namun, kata Dina, Ade memilih untuk pikir-pikir dan tak kunjung menikahinya.

Bahkan, Dina sampai meminta nikah kontrak kepada Ade jika Ade tak serius ingin menjalani hidup dengannya.

“Tawaran yang Dina berikan adalah nikah dulu sama Dina, nikah kontrak, setelah itu kita cerai, biar status Dina jelas, anak Dina legal. Fokusnya ke anak Dina, kita nikah sebentar saja deh, habis itu terserah kamu mau nikah sama istri kamu atau gak,” beber Dina.

Dina temukan kejanggalan pada kesehatan dan fisik bayinya

Setelah NA lahir, Dina mulai menemukan kejanggalan pada kondisi kesehatan maupun fisik bayinya.

Saat ia menjalani wisuda Februari 2025 lalu, bayi NA sempat Dina titipkan ke Ade. Namun saat pulang dari wisuda, Dina malah menjumpai anaknya dalam keadaan kaki tremor dengan bekas cakaran di tangan.

BACA JUGA: Brigadir Ade Kurniawan Pembunuh Bayi Sendiri Resmi Jadi Tersangka, Terancam 15 Tahun Bui

Tak hanya itu, kata wanita tersebut, bayinya sempat mengalami demam hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Setelah kejadian itu, ibu kandung Dina yang berprofesi sebagai seorang bidan dan kerap mengganti popok NA menyebut bayi NA mengalami hernia alias turun usus.

“Akhirnya kita ke rumah sakit lagi, dokter spesialis bedah anak bilang kalau gak karena traumatik, ya bawaan lahir. Tapi kalau bawaan lahir kenapa gak muncul di awal-awal lahir,” ucap dia.

Lantaran menderita hernia, bayi NA pun harus menjalani operasi.

Dapati kondisi bayi NA sudah tak bernyawa setelah Ade gendong

Tiba pada 2 Maret 2025, yang mana Ade dan Dina sempat keluar rumah membawa bayi NA untuk berkeliling. Dalam perjalanan, Dina mengaku singgah ke Pasar Peterongan untuk membeli sesuatu.

Setelah masuk ke dalam mobil usai berbelanja, Dina kaget mendapati bibir bayi NA berwarna biru.

“Sekitar 10 menit Dina balik ke mobil, posisinya bayi digendong dia, posisinya diselimutin. Dina duduk, dia bilang ‘ini anaknya tidur’, ngasih ke Dina. Sudah gendong, Dina buka selimutnya, kok biru bibirnya. Dina langsung ngepuk-puk, manggil namanya, tapi diam saja, Dina langsung teriak minta ke rumah sakit,” ujar Dina.

Karena panik, bayi NA yang dibawa ke IGD RS Roemani, yang merupakan RS terdekat dari Pasar Peterongan.

Ia menyebut, bayi NA juga sempat dibawa ke NICU, hingga akhirnya nyawanya tak tertolong.

Saat menunggu bayi NA di ruang NICU atau sebelum dinyatakan meninggal, Dina menyebut Ade terus mendoktrin dirinya bahwa jika nyawa NA hilang, hal itu merupakan kesalahan keduanya.

“Dari rumah sakit diagnosanya meninggal karena gagal napas. Terus Mama sampai RS, Mama bilang divisum dulu, karena gak terima cucunya gak ada secepat itu,” pungkasnya.

Tak jadi divisum, akhirnya bayi NA pun dikubur di kampung halaman Ade. Meski awalnya keluarga Ade mengaku malu harus mengubur bayi NA di Purbalingga.

BACA JUGA: Brigadir Ade Kurniawan Pembunuh Bayi Sendiri Resmi Jadi Tersangka, Terancam 15 Tahun Bui

Sebelumnya, ada laporan bahwa Brigadir Ade menganiaya bayi usia 2 bulan hingga meninggal. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah hingga kini tengah menangani laporan tersebut.

Laporan tersebut menggunakan Pasal 80 ayat (3) UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan atau Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang Penganiayaan Berat.

Ade pun kemudian didakwa melanggar tiga pasal, yakni Pasal 80 ayat (3) dan (4) juncto Pasal 76C UU Perlindungan Anak, Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, dan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp