Jateng

Tradisi Unik Sawuran Nasi di Blora, Mirip Tawuran tapi Penuh Makna!

×

Tradisi Unik Sawuran Nasi di Blora, Mirip Tawuran tapi Penuh Makna!

Sebarkan artikel ini
sawuran nasi
Acara Sedekah Bumi di Desa Gedangdowo, Kecamatan Jepon, Blora, kembali memukau warga dengan tradisi unik bernama Sawuran Nasi. (Heri/beritajateng.tv)

BLORA, beritajateng.tv – Acara Sedekah Bumi di Desa Gedangdowo, Kecamatan Jepon, Blora, kembali memukau warga dengan tradisi unik bernama Sawuran Nasi.

Awalnya, banyak yang mengira bahwa kerumunan puluhan warga yang saling serang itu adalah tawuran.

Namun, ternyata mereka tengah merayakan sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Dua tumpeng berisi nasi berlangsung di tengah kerumunan, dan seketika itu juga, warga maju mengambil nasi dan melemparkannya ke sesama.

Momen ini terlihat mirip dengan keributan tawuran, namun sebenarnya adalah ekspresi kegembiraan dalam tradisi Sawuran Nasi yang warga setempat lestarikan.

Tradisi ini berlangsung sekali setahun, tepatnya saat tasyakuran Sedekah Bumi.

BACA JUGA: Nasi Ambengan, Tradisi Warga Kalibening Berbagi saat Ramadhan

Tumpeng yang merupakan simbol hasil bumi ini diarak dari rumah Kepala Desa menuju sebuah punden, sebelum akhirnya diadakan sawuran oleh pemuda dan warga desa.

Menariknya, meski belum ada doa-doa dari pemuka agama, semangat kebersamaan tetap terasa.

Setelah sawuran, suasana menjadi ceria. Para pemuda dan warga tidak merasa dendam, melainkan bersorak gembira sambil menikmati kebersamaan.

Pengunjung yang menyaksikan tradisi ini juga tampak terhibur, tanpa rasa khawatir terkena lemparan nasi.

“Konon, jika tradisi ini tidak berlangsung, hasil bumi dari sawah tidak akan melimpah,” ujar Sutikno, Kepala Desa Gedangdowo.

Selain dua tumpeng untuk sawuran, terdapat juga puluhan tumpeng yang dibagikan kepada pengunjung. Acara ini semakin meriah dengan sajian kesenian khas Jawa, yaitu wayang kulit, yang turut menghibur para tamu.

“Terhibur, dan ini untuk melestarikan tradisi juga, bagus pokoknya,”ungkap Dyah.

BACA JUGA: Kemeriahan Kirab Budaya Apitan Warga Jomblang, Tradisi yang Sempat Vakum 30 Tahun Silam

Tradisi Sawuran Nasi ini tidak hanya menjadi ajang syukur atas hasil bumi, tetapi juga mempererat silaturahmi antarwarga.

Dengan semangat gotong royong, masyarakat Desa Gedangdowo terus melestarikan warisan budaya yang kaya ini. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp