SEMARANG, beritajateng.tv – Pada era di mana kesadaran lingkungan semakin meningkat, upaya untuk mendaur ulang dan menggunakan bahan-bahan bekas menjadi semakin penting. Hal itu sebagaimana yang Apriliani Ernawati lakukan dengan kerajinan tangan berbahan koran bekas.
Piliani, sapaan akrabnya, mampu memanfaatkan limbah koran bekas menjadi produk-produk kerajinan tangan yang bernilai tinggi. Tak tanggung-tanggung, ia bisa memanfaatkan 30 kg limbah koran bekas tiap bulannya.
“Kami memakai limbah koran, ambil dari pengepul dan bank sampah. Awalnya teman-teman bank sampah yang setor ke sini, terus kalau sekarang karena kebutuhan makin banyak, aku yang datang ke pengepul,” kata Piliani ketika beritajateng.tv berkunjung ke kediamannya, belum lama ini.
Berbekal kegemarannya akan dunia kerajinan tangan, Piliani mampu menciptakan inovasi dalam dunia anyaman menggunakan limbah koran bekas. Meski begitu, ia mengaku sedikit menemukan kendala dalam proses mengolah limbah koran bekas menjadi lintingan menyerupai rotan.
“Jadi prosesnya adalah, koran itu kita potong, kemudian gulung jadi lintingan, kemudian kita warnai dan jemur, lalu di-coating dan jemur, setelah itu balik coating dan jemur lagi, baru bisa digunakan. Memang nggak bisa sekali jadi. Paling susah adalah proses mewarnai,” jelas pemilik Craftonesia ini.
Lebih lanjut, Piliani menjelaskan bahwa proses coating lah yang bisa membuat lintingan kertas yang rapuh mampu berubah menjadi menyerupai rotan yang kuat dan tahan air. Tak heran jika Piliani menghabiskan waktu paling banyak pada proses pewarnaan.
“Itu juga waktu coating kita harus pisah-pisahin satu-satu. Kalau telat misahinnya dia juga akan nempel, jadi memang agak tricky di proses perwarnaan,” lanjutnya.
BACA JUGA: Sulap Koran Bekas jadi Kerajinan Tangan Cantik Bernilai Tinggi
Kerajinan Tangan Koran Bekas Butuh Kerapian Tinggi
Beberapa produk yang berhasil Piliani ciptakan dengan memanfaatkan limbah koran bekas adalah tas jinjing, tatakan gelas, keranjang, gelang, gantungan kunci, jam dinding, hingga berbagai perintilan home decor lainnya.
Seperti kerajinan tangan lainnya yang membutuhkan seni tinggi, Piliani mengaku sulit mencari karyawan. Bahkan, produk dengan tingkat kesulitan tinggi seperti tas masih Piliani kerjakan sendiri.
“Tas masih aku sendiri, makanya temen-temen aku ajarin bikin tasnya, kalau gelang dan gantungan kunci banyak yang bisa, tapi kalau tas ini memang butuh pemahaman, effort, dan kerapian yang detail,” ucapnya.
Dalam satu minggu, Piliani bisa membuat satu hingga dua buah tas jinjing. Sedangkan untuk aksesoris simpel seperti gelang, ia bisa membuat 40 gelang hanya dalam waktu tiga hari.
“Kalau yang sudah terbiasa, menyelesaikan kerajinan seperti tempat pensil atau keranjang hampers cuma memakan waktu 1-2 jam saja,” ujar Piliani.
Saat ini, beberapa mahasiswa Undip tengah membantu Piliani dalam menciptakan produk-produk kerajinan tangan Craftonesia. Ia juga secara rutin mengisi pelatihan demi mengajak lebih banyak orang dalam memanfaatkan limbah koran bekas. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





