SEMARANG, beritajateng.tv – Dalam rangkaian peringatan Hari Kartini di Kota Semarang, sejumlah ibu-ibu antusias menukarkan botol plastik bekas menjadi tanaman di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Senin, 21 April 2025.
Ratusan botol plastik terkumpul selama dibukanya stand Bank Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Mereka ikut memeriahkan peringatan Hari Kartini yang Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang gelar.
Satu di antaranya dari Wakiatin, warga Srondol Kulon, Banyumanik. Ia menukar 15 botol plastik menjadi tanaman pucuk merah.
BACA JUGA: Peringatan Hari Kartini di Semarang, Ada Lomba Perempuan Tangguh Hingga Fashion Show
“Saya antusias menukar botol plastik karena dapat tanaman. Bisa di tanam di rumah,” ungkap Wakiatin.
Mengumpulkan 15 botol plastik, baginya, sangat mudah. Mengingat, ia merupakan pengelola Bank Sampah Aster di Kelurahan Srondol Kulon. Setiap hari, dia mendapatkan berbagai sampah anorganik dari masyarakat yang menabung sampah.
Dia mengaku senang menjadi pengelola bank sampah karena cuan yang mereka hasilkan bisa untuk menambah penghasilan keluarga. Di sisi lain, ada tantangan yang harus dihadapi yaitu harus berani kotor dan melawan bau yang tak sedap.
Dalam sebulan, ia bisa meraup cuan minimal Rp 1 juta dari hasil bank sampah.
“Dalam sebulan bisa meraup minimal Rp 1 juta, pernah Rp 2 juta, tergantung pendapatan sampah dari warga,” ungkapnya.
Staf Bidang Pengawasan dan Pemberdayaan Lingkungan DLH Kota Semarang, Nuzulul P mengatakan, antusiasme masyarakat menukar botol cukup tinggi. Penukaran botol menjadi tanaman ini bertujuan untuk edukasi pilah sampah sekalihus melestarikan tanaman.
“Kami membuka penukaran botol plastik. Ada 10 botol plastik ukuran sedang untuk penukaran bibit tanaman. Kalau ukuran kecil sebanyak 15,” sebutnya.
Nuzulul menyebut, penukaran ini merupakan program kombinasi antarbidang bank sampah dan konservasi lingkungan.
Staf Bagian Konservasi Lingkungan, Dwi Sumarsono menyebut, ada berbagai macam tanaman yang bisa masyarakat bawa pulang dalam penukaran botol plastik. Meliputi tanaman sayuran, tanaman hias, dan tanaman buah-buahan. Masyarakat bebas memilih tanaman yang mereka inginkan.
“Tanaman paling di minati ibu-ibu cenderung ke sayur. Ada terong, lombok, dan lain-lain,” ungkapnya.
Pada momen peringatan Hari Kartini, dia berharap, peran wanita untuk turut menyebarkan tanaman untuk menekan karbondioksida.
“Ini tidak hanya sebatas penukaran botol, namun juga sebagai upaya mengurangi gas karbon,” ucapnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah






