SEMARANG, beritajateng.tv – Nama Yati Pesek tengah menjadi objek sorotan warganet di media sosial usai beredarnya video sosoknya mendapat ucapan tak senonoh dari Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah.
Adapun dalam video yang beredar tersebut, Gus Miftah seakan menghinanya dengah candaan yang mengarah ke mesum.
Dari sana tak sedikit yang mengecam perkataan Gus Miftah. Ada pula warganet yang menyayangkan netizen lain yang tidak tahu sosok Yati Pesek yang merupakan seniman legendaris asal Yogyakarta.
BACA JUGA: Tangis Gus Miftah Pecah saat Putuskan Mundur dari Utusan Khusus Presiden
Profil dan karier Yati Pesek akan dibahas dalam artikel berikut.
Yati Pesek adalah seorang pelawak kawakan yang dikenal luas karena gaya humornya yang khas, logat Jawa yang kental, serta penampilannya yang sederhana.
Nama panggung “Pesek” terinspirasi dari ciri fisiknya, yaitu hidung yang kecil, yang justru menjadi daya tarik unik dalam dunia hiburan.
Memulai kariernya di dunia seni tradisional Jawa, Yati Pesek awalnya publik kenal sebagai penyanyi campursari dan sinden.
Karier profesional Yati Pesek mulai tahun 1964 ketika ia bergabung dengan kelompok seni Wayang Orang Jati Mulya dari Kebumen, Jawa Tengah.
Yati Pesek mulai menonjol ketika bergabung dengan grup-grup lawak lokal di Yogyakarta dan Solo, hingga akhirnya terkenal secara nasional.
Yati Pesek menjadi sorotan berkat kemampuannya membawakan lawakan yang segar dan sering kali spontan, menjadikannya sebagai salah satu ikon pelawak perempuan Indonesia.
Tak hanya di dunia lawak, Yati Pesek rupanya juga melebarkan sayapnya ke dunia seni. Ia kerap muncul di berbagai sinetron, film, dan acara komedi televisi.
BACA JUGA: Selain Olok-olok Bakul Es Teh, Ini 4 Kontroversi Gus Miftah yang Bikin Publik Heboh
Puncaknya, di tahun 1980 Yati Pesek untuk pertama kalinya tampil di salah satu acara stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI). Acara itu bertajuk Sandiwara Jenaka KR.
Demikian profil sosok dan perjalanan arier Yati Pesek, namanya sedang hangat sejak beredarnya video Gus Miftah menghinanya. (*)





