Nasional

Profil Sritex, Perusahaan Tekstil Terbesar di Asia Tenggara yang Tinggal Sejarah

×

Profil Sritex, Perusahaan Tekstil Terbesar di Asia Tenggara yang Tinggal Sejarah

Sebarkan artikel ini
PT Mahesa Jenar | Suap Eks Polda | Polda Bintara | ilustrasi pengadilan | Etawaku | Bintara Polda
Ilustrasi pengadilan. (Foto: Pexels/Pixabay)

SUKOHARJO, beritajateng.tv – Sebuah berita mengejutkan datang dari PT Sri Rejeki Isman (SRIL/Sritex) Tbk. Pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut bangkrut.

Adapun pernyataan soal bangkrutnya PT Sritex ini ditetapkan oleh Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Jawa Tengah nomor 2/Pdt.Sus- Homologasi/2024/PN Niaga Smg oleh Hakim Ketua, M Ansor pada Senin, 21 Oktober 2024.

Sritex yang kini hanya tinggal sejarah rupanya bangkrut karena tak kuat menyangga hutang US$1,54 miliar, atau Rp24,6 triliun.

Pailitnya Sritex menyisakan pertanyaan besar tentang penyebab kejatuhannya, serta dampaknya bagi perekonomian regional dan nasional.

Adapun hal ini juga menjadi pukulan besar bagi industri tekstil nasional, serta ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada Sritex.

BACA JUGA: Anggap Besar Pengaruhnya, Pengusaha Tekstil di Semarang Keluhkan Banjir Impor Produk China

Sritex, PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya telah lalai dalam memenuhi kewajiban pembayarannya kepada PT Indo Bharat Rayon, selaku pemohon, berdasarkan Putusan Homologasi tanggal 25 Januari 2022.

“Menyatakan PT Sri Rejeki Isman Tbk, PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya pailit dengan segala akibat hukumnya,” mengutip petitum melalui SIPP PN Semarang, Kamis, 24 Oktober 2024.

Profil PT Sritex

Sritex merupakan perusahaan tekstil yang berdiri sejak tahun 1966, H.M Lukminto mendirikannya sebagai usaha perdagangan tekstil kecil di Solo, Jawa Tengah.

Dua tahun kemudian, Sritex mulai mendirikan pabrik cetaknya sendiri, dan pada tahun 1982, perusahaan ini merambah ke sektor tenun dengan mendirikan pabrik tenun pertamanya.

Keberhasilan Sritex semakin nyata pada 1994 ketika mereka di percaya menjadi produsen seragam militer untuk NATO dan Angkatan Bersenjata Jerman.

Sritex juga mampu bertahan dan bahkan berkembang selama krisis moneter 1998. Perusahaan ini berhasil melipatgandakan pertumbuhannya hingga delapan kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2013, Sritex melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SRIL, memperkokoh posisinya sebagai salah satu raksasa industri tekstil nasional.

Jadi kebanggaan Jokowi

Perusahaan ini pun terus berekspansi hingga menuai pujian dari Jokowi yang hadir dalam peresmian perluasan pabrik Sritex pada 2017 di Sukoharjo, Jateng.

Jokowi kagum lantaran Sritex berhasil dipercaya membuat seragam tentara untuk 30 negara. Termasuk 8 negara di Eropa.

Seiring waktu berlalu, Sritex mengalami masalah uang yang serius.

Sahamnya terkena suspensi sejak Mei 2021 akibat keterlambatan pembayaran bunga dan pokok MTN (Medium Term Notes).

Utang perusahaan pun terus menumpuk, dengan total liabilitas mencapai sekitar Rp24,3 triliun per September 2023.

BACA JUGA: Blusukan ke Pabrik Tekstil di Tengah Lesunya Industri Garmen, Andika-Hendi Tanggapi Akankah UMP Naik?

Masalah keuangan ini diperparah oleh persaingan ketat di pasar global serta dampak pandemi Covid-19.

Selain itu, kondisi geopolitik, seperti perang Rusia-Ukraina, turut menyebabkan penurunan ekspor produk tekstil ke Eropa dan Amerika Serikat.

Meski sempat membantah kabar kebangkrutan pada Juni 2024, situasi Sritex terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan pailit. Kini, perusahaan tekstil terbesar di Asia tersebut hanya tinggal sejarah. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp