Jateng

Geruduk Kantor Bupati, Ini Sederet Tuntutan Demo Warga Pati: Bawa Keranda, Desak Sudewo Mundur

×

Geruduk Kantor Bupati, Ini Sederet Tuntutan Demo Warga Pati: Bawa Keranda, Desak Sudewo Mundur

Sebarkan artikel ini
Aksi Pati 25 | Demo Pati
Suasana demo besar-besaran warga Pati di depan Kantor Bupati Pati, Rabu, 13 Agustus 2025 pagi. (Foto: Instagram/@pativiral_ dan @ziyannd)

PATI, beritajateng.tv – Warga Pati mulai berdatangan memenuhi halaman kantor Bupati Pati pada Rabu, 13 Agustus 2025 untuk menggelar demo besar-besaran.

Massa tetap turun ke jalan meski kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) 250 persen sudah Bupati Pati Sudewo batalkan.

Sejak pagi, warga mulai berkumpul di sekitar Kantor Bupati Pati. Terlihat keranda mayat tergeletak di depan kantor tersebut.

Sebuah truk tronton juga terparkir di lokasi sebagai simbol perlawanan. Spanduk dan poster berisi kritik terpampang di berbagai sudut aksi.

BACA JUGA: Bikin Heboh Gegara PBB 250 Persen, Segini Harta Kekayaan Bupati Pati Sudewo Sesuai LHKPN 2025

Salah satu spanduk bertuliskan, “Bupati Pati Sudewo mundur secara kesatria atau dilengserkan rakyat secara paksa”.

Ada pula tulisan, “Pati bukan untuk pengecut tapi Pati punya warga Pati”. Berbagai pesan itu mencerminkan kemarahan publik terhadap kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.

Di dalam Kantor Bupati, ratusan polisi bersiaga. Beberapa petugas berjaga di pintu masuk menuju lokasi aksi. Sebanyak 2.684 personel gabungan dari 14 polres, TNI, dan instansi lain menjaga keamanan.

Sederet tuntutan demo besar-besaran warga Pati terhadap Bupati Sudewo

Sebagai informasi, ada lima tuntutan utama dalam demo akbar warga Pati hari ini. Pertama, meminta Bupati Sudewo mundur dari jabatan. Kedua, menolak kebijakan lima hari sekolah.

Ketiga, menolak renovasi Alun-alun Pati dengan anggaran Rp2 miliar. Keempat, menolak pembongkaran total Masjid Alun-alun yang memiliki nilai sejarah. Kelima, menolak proyek videotron senilai Rp1,39 miliar.

Menurut para pengunjuk rasa, aksi ini merupakan perlawanan terhadap kebijakan yang tidak memihak rakyat. Mereka juga menegaskan aksi sebagai peringatan agar pemerintah daerah lebih transparan serta mendengar suara publik.

BACA JUGA: Kritik Keras Arogansi Sudewo, Pengamat Politik Undip: Harusnya Bupati Bisa Menahan Diri

Massa aksi membawa atribut unik dan menarik perhatian. Keranda mayat yang diletakkan di depan kantor seolah melambangkan kematian kepercayaan rakyat terhadap pemimpin.

Para orator bergantian menyerukan persatuan warga untuk menolak kebijakan yang merugikan. Sorak-sorai massa menggema di seluruh area aksi.

Meski situasi berlangsung panas, para peserta mengaku akan menjaga jalannya unjuk rasa tetap damai. Mereka berharap pesan rakyat tersampaikan jelas kepada pihak berwenang tanpa insiden yang merugikan semua pihak. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp